Postingan

Lisan vs Isi Hati

Zaman bertambah tua semakin tampak nyata manusia yang menua tidak serta merta jiwanya pun menjadi tua/matang/bijak. Banyak yang mengandalkan pada hawa nafsunya saja tanpa sedikitpun mau mendengarkan suara hatinya, akibatnya banyak sekali manusia yang pandai bersandiwara. Lisannya terdengar santun manis plus sangat fasih menyebutkan ayat-ayat kitab agama, bicaranyapun muluk-muluk penuh kesucian. Ternyata jika telah menjadi watak/karakter maka suatu saat akan keluar juga aslinya.

Siklus

Seseorang yang hatinya pahit maka keluar lisannya tentu juga pahit, berakibat sikap dan tingkah lakunya menjadi kejeglong-jeglong kemudian akan mengeluh bahwa dirinya mengalami suatu penderitaan. Padahal yang mendefinisikan penderitaan ya para manusianya sendiri dikarenakan hasratnya yang tak terpenuhi sehingga merasa kesal dan kecewa.

Tahapan

Setiap manusia pasti berproses didalam kehidupannya dan pencapaiannya akan seiring dengan upayanya masing-masing. Begitu juga prosesnya dalam menjalani agama sampai dengan pencapaian spiritualnya. Pada tahapan awal atau tahapan dasar : Seseorang pergi beribadah atau melakukan ibadah hanyalah sekedar untuk membuang waktu saja, atau suatu paksaan untuk memenuhi pola kebiasaan pada agama yang dianutnya. Sekedar melunaskan kewajibannya. Melibatkan sebatas fisiknya saja. Sering muncul euforia untuk mempertunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang beragama.

Gelora Nafsu

Hawa nafsu itu bertingkat-tingkat ada skalanya. Dari sekedar nafsu makan minum, nafsu sex sampai dengan nafsu kekayaan/kebendaan dan jabatan/derajat-semat/kepopuleran/kekuasaan. Kadar godaan dari masing-masing tingkat juga berbeda-beda. Yang jelas jika manusianya tak pandai menjinakkannya maka nafsunyalah yang lebih galak kepada dirinya lalu menguasainya, judule dikuasai hawa nafsu. Akibatnya semua kebaikan yang ada tak tampak jelas atau malah gelap dan yang terlihat hanyalah kebaikan ala dipikirannya saja. Karna itulah orang-orang yang sedang dibelenggu   hawa nafsunya akan sulit menerima nasehat yang positif. Lebih senang mendengar nasehat yang sejalur dengan   angan-angan pikirannya. Yang penting sama dengan gwe, kudu kompakkkk !!!  …gak sejalur siikkaatttt !!!

Rangkaian

Rasa kesal selalu bertetanggaan dengan dongkol, Rasa dongkol berteman dengan kebencian. Kebencian   bersahabat dengan rasa amarah. Nah amarah akan   akrab dengan dendam Lalu dendam selalu beriringan dengan iri dan dengki. Dendam jika telah kesumat akan melekat pada pembunuhan, Baik pembunuhan karakter ataupun pembunuhan fisik. Uffss….sangat mengerikan. Dan lebih mengerikan lagi masih banyak manusia yang menyukainya.

Makrifat sesat ?

“Kemarin yang kudengar makrifat itu sesat lho”, kata seorang teman. “Kata siapa tuh sesat ?”, teman yang lain menanggapinya. “Kudengar dari pernyataan mereka”, jawab teman itu. “Jika pengetahuan matematikamu   adalah 2+3=5 atau 1023920 x 13200 = 13515744000 begitu melihat soal semacam :   cot²  θ  + cos²  θ  = cot²  θ  cos²  θ       …maka kau akan berkata apaan tuh matematika kok seperti itu ?! … bisa diibaratkan semacam itulah”, kujelaskan kepada mereka. “Karena belum paham aja ya ?”, komentar teman yang lain. “Itulah proses…setiap manusia akan melalui suatu proses dimulai dari ilmu dasar tetapi tentu harus belajar dan terus mempelajari ilmu-Nya”, kujawab temanku. “Ilmu Allah itu sangatlah luas dan tak terbatas, bahkan semakin kita mempelajarinya maka diri kita akan semakin   merasa bodoh dan lemah sebab menjadi tahu ternyata bobot pengetahuan yang...

Merdeka73

Pekik merdeka bergema… Diteriakkan disetiap hari-simbolisasi kemerdekaan negri, Bergembira dengan upacara-upacara, dan berbagai acara permainan seru-seruan, Para leluhur-pejuang cukuplah diberi doa dan hening cipta, beliau-beliau leluhur kita entah senang, bahagia atau bertanya-tanya, betapa perjuangannya hanya dilihat dipermukaannya saja, Rakyat bertepuk sorai tanpa memakai –rasa- Tiada resapi makna rasa pejuang sejati mereka.

Betul Yakin

Manusia yang disebut sudah beriman adalah manusia yang sudah haqqul-yakin akan Kuasa-Nya, bukan sebatas ainul-yakin apalagi hanya   ilmul-yakin. Haqqul-yakin akan terbentuk jika dirinya telah sungguh-sungguh membuktikan sendiri akan Kuasa-Nya, sudah merasakan sendiri, sudah menyadari sepenuhnya bahwa Allah Maha… Bukan jarene atau kata orang lain (=Ilmul-yakin).   Atau hanya menyaksikan Kuasa-Nya pada   orang lain tetapi belum mengalaminya sendiri (=ainul-yakin).

Manjur

“Kenapa ya ada orang yang doanya sering dikabulkan dan ada yang doanya sulit terkabul  ?”, tiba-tiba seorang teman berkomentar. “Doanya tidak dari hati kaliii”, sahut teman lain. “Menurutmu ?”, tanyanya kepadaku. “Doa itu seperti minum obat”, jawabku. “Maksudmu ?”, tanya mereka berdua. “Seperti efek placebo dan nosebo itu…disaat kau sakit lalu minum obat, jika kau yakin akan kemanjuran obat tersebut tentu efek menyembuhkannya besar, tetapi jika kau tak begitu yakin/ragu akan kemanjuran obatnya maka secara psykhologys akan mempengaruhimu sehingga efek obatpun akan berkurang dan kau tak akan sembuh”, kujelaskan. “Jadi tergantung tingkat keyakinan kita akan kemanjuran doa kita ya?”, tanyanya. “Yup…dan keyakinan itu bukan hanya sebatas ucapan dilisan tetapi dari kedalaman hati. Yakin itu berasal dari nurani yang paling dalam. Seperti disebutkan dalam agama –doa orang yang teraniaya akan dikabulkan Allah. Orang yang teraniaya tentunya akan berdoa dari hatinya yang palin...

Tersiksa

“Aku sedang tersiksa nih, permasalahanku darurat !!”, kata seorang teman begitu kami bertemu. “Tersiksa karena kau buat sendiri kaliiii”, jawabku usil. “Ini seriusss…kau malah becanda”, katanya meradang. “Tuuhh reaksimu sudah jelas membuktikan”, jawabku masih menggodanya. “Ayolah serius, dengarkan akuuuu….”, jawabnya merajuk dan kemudian dia menceritakan beban pikirannya. “Nah itu kau sudah berdoa rutin, semestinya kau sudah tenang bukan”, kataku. “Iya sih, tapi jika doaku tidak dikabulkan bagaimanaaaa ?”, katanya gusar.

Amarah

Seorang manusia yang kodratnya diberi suatu kecerdasan oleh Allah Sang Maha, kadang saking cerdasnya menjadi pelupa. Begitu kehendakannya dirasa terganggu lalu timbullah amarah, kemudian mendikte-Nya …berdoa memohon pembalasan untuk pihak yang dianggap menghalangi kehendakannya, kesenangannya. Mendikte-Nya seolah dia lebih kuasa dan lebih unggul dari Sang Maha. Menyuruh agar Allah mau menuruti instruksinya, disuruh menyakiti orang yang dianggap jadi penghalangnya. Lupa bahwa dirinya adalah umat-Nya. Amarah telah menjebaknya, melenakannya sampai tidak menyadari bahwa egonya telah mempermainkannya, membujuknya agar tampak selalu menang. Lupa bahwa pembalasan adalah hak prerogatif-Nya. Perlu perenungan yang dalam… *Semoga kita termasuk orang yang paham bertobat.   Ampuni hamba-Mu yang lemah ini Ya Allah. Indonesia, 130718

Kepuasan ??

Kelebihan manusia dari makluk-Nya yang lain adalah karena diberi akal/nalar, tetapi jika tak berhati-hati menggunakannya maka bisa menjadikannya menduakan-Nya yaitu lebih memilih menuruti hawa nafsunya. Padahal dengan akalnya seharusnya mampu memahami Kuasa-Nya sehingga dengan demikian menjadi semakin cinta kepada-Nya. Tetapi dengan akalnya pula manusia bisa terjebak pada hawa nafsunya, sebab hawa nafsu selalu canggih dalam menggoda manusia, dengan berbagai cara hingga si manusia tak menyadarinya.

Surat Perjanjian

Dalam kehidupan yang semakin maju ini semua hal sangat mudah digapai, terutama yang bersifat material.  Seseorang yang belum mempunyai cukup uang sangat mudah untuk memiliki barang impian, motor, mobil, rumah ataupun barang lain yang bernilai besar. Cukup bertanda-tangan di lembar surat perjanjian kredit maka barang impian sudah beralih tangan. Didalam surat tersebut tercantum pasal-pasal kewajiban dan hal-hal yang tak boleh dilanggar, si nasabah akan berusaha sekuat upaya untuk tertib memenuhi seluruh kewajiban tepat pada waktunya sebab takut barang yang dicicilnya akan disita atau bahkan takut didatangi debt-collector.

Fitrah

Hiruk pikuk manusia bersorak, Usai sudah kewajiban puasa sebulan, Merasa kemenangan sudah ditangan, Merasa mampu menahan lapar dahaga sebulan. Lega dan bahagia terasa. Sudah kembali ke fitrah… Sungguhkah ?

SIM

Menjelang lebaran ini, lalu lalang kendaraan melintas padat, semua tampak terburu-buru hingga semrawut dan simpang siur…tak ada yang mau mengalah sampai kemudian mampet diperempatan. Penyakit yang tak pernah usai…sungguh mengherankan. Padahal jika mau sedikit cermat, mengalah pada kendaraan lain hanya butuh waktu 10 detik saja dan jika kita mau mengalah maka kitapun akan diberi akses oleh kendaraan yang lain lagi, saling menular dan kemudian menjadi relatif lancar.