Postingan

Gajah

Gambar
Teringat cerita masa kecil : Ada seekor gajah kakinya dirantai disuatu tempat. Sehari-hari gajah tersebut berada ditempat itu, selama bertahun-tahun tak pernah berpindah atau dipindahkan oleh pemiliknya. Suatu saat si pemilik tak sanggup lagi memeliharanya dan bermaksud melepas liarkannya. Dilepaskannya rantai kakinya berharap gajah itu pergi dengan begitu saja. Sehari dua sampai seminggu si pemilik masih datang membawakan makanan.

Mengeluh

Gambar
Seorang ber-agama semestinya tegar dan tidak mudah mengeluh, sebab didalam dirinya telah yakin akan bimbingan dan perlindungan-Nya.   100% yakin !!. Mengeluh itu karena dirinya merasa kawatir dan takut kepentingannya tak tercapai lalu mencari kesalahan pada yang lain. Mengeluh terkandung juga makna tak pandai bersyukur. Adanya kesulitan justru dapat dijadikan sarana belajar menjadi lebih pintar. Maka bagi si pengeluh dirinya tak bersyukur telah mendapatkan sarana untuk belajar. Lebih asiikk mengeluh dan terus mengeluh.

Just Baju Luar

Gambar
Seorang ber-agama tidak karena tampilan luarnya, baju bisa diubah sesuka kepentingannya. Jika hanya diukur dari pakaiannya maka penjahatpun lekas belanja kepasar dan dalam sekejap akan beralih rupa. Melihat tampilan luar hanyalah memberikan pandangan yang terbatas dan tak sempurna. Lebih celaka hasilnya pun bisa sebaliknya, sebab hasil tangkapan   panca indra sangatlah tergantung imajinasi dari pikirannya. Yang juga masih bisa tertangkap panca indera adalah tingkah lakunya, tutur katanya, sepak terjangnya. Itupun dapat pula direkayasa sesuai kepentingannya. Ibarat seorang aktor yang harus menampilkan berbagai karakter peran panggungnya.

Temperamental

Gambar
Tak sengaja melihat seseorang yang sedang kalap saking marahnya…jadi tertarik menulis sesuatu untuk sekedar mengingatkan. Banyak orang terjebak membedakan antara seorang yang tegas vs seorang yang temperamental. Banyak yang menganggap keduanya sama saja.   No way !!   Salah besar !! Seorang yang tegas tak selalu tampak dari tampilan luarnya, bisa jadi terlihat pendiam atau tenang. Tegas adalah sikap yang berani dan percaya diri didalam mengungkapkan apa yang benar dan apa yang salah, apa yang diinginkan dan apa yang tidak diinginkan secara jelas, nyata dan pasti dengan dasar pemikiran yang rinci. Tidak harus menyampaikan pendapatnya dengan nada suara tinggi atau menggelegar. Sedangkan yang temperamental adalah seorang yang memiliki kebiasaan bersikap keras, pemarah dan mudah emosi tanpa melihat situasi yang ada.

Hati Membatu

Gambar
Ber-agama  bukan sebatas urusan pintar membaca ayat-ayat suci, bukan sekedar berlomba menghapal isi kitab agama, bukan hanya cukup menjalankan ibadah fisiknya, bukan pula urusan pengumpulan massa. Ber-agama agar pandai menggunakan hati nurani hingga mampu menyatu bersama Rasa-Nya, Rasa Welas Asih-Nya yang sangat menyejukkan-yang tak dapat digambarkan dengan seluruh kalimat saking indahnya, yang menentramkan tiada tara, yang menenangkan tiada tandingan, yang membahagiakan tanpa syarat. Ber-agama adalah belajar mempunyai rasa empati, rasa tepa salira, rasa toleransi, rasa menghargai, rasa menghormati, rasa mengasihi kepada sesama makluk dan alam semesta raya tanpa bersyarat. Ber-agama itu adalah belajar melembutkan hati nurani. *Kawan, jangan sampai kau lupa mengasah hati nuranimu agar semakin bersih dari segala penyakit hati, jika kau hanya berfokus memintarkan akal pikirmu saja maka bertahap hatimu akan membatu.

Gunung Es

Gambar
Ber-agama itu seperti fenomena sebuah gunung es, tak cukup hanya menjalankan seperti apa yang tampak disebatas pandangan mata saja, sebab tanpa mau menyelam di kedalaman relung nurani maka hanya akan mendapati pada sebatas rumangsa/ke ge-er an /sok merasa iya… ala akal pikiran saja. Hanya rumangsa telah berada dijalan-Nya. Masuklah !! kedalam relung hati-mu maka kau akan mendapatkan ilmu-Nya yang sungguh tak terhingga. Kau akan diberitahu banyak hal oleh-Nya. Jika hanya menggunakan akal pikir saja maka tak akan mampu menjangkau keberadaan-Nya. Menyelamlah semakin dalam !! Maka kau akan bersinergi dengan-Nya, Keindahan yang kau rasakan bahkan tak terhingga…. Tak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkannya, dan Rasa itu tak dapat dibuat-buat dengan disengaja. Buktikan !! *…yakin !! pasti kau tak ingin meninggalkan saat-saat seperti itu.

Nyepi

Berjalan menyusuri kedalam diri, menilik laku yang senantiasa bertubi-tubi, menelasak kesana kemari tiada henti, mengikuti nafsu dan keegoan diri. Kudu sejenak merasakan jeda bersama sang jiwa, agar bersama merasakan terhargai, bersemedi sarana melembutkan sang diri. Tengok kekurangan-kelemahan-kesalahan, Jangan sampai menjadi proses yang abadi Tuk diteruskan pada hidupnya nanti. Nyepi kedalam diri… Tuk tujuan akhir bersih nan suci. Selamat merayakan Hari NYEPI Untuk seluruh sobat bangsa Indonesia yang melaksanakannya.

Menghargai

Menghargai sesama manusia… Kalimat simpel yang artinyapun tampak simpel. Benarkah   ? Coba tengoklah kedalam dirimu sendiri : Seumpama kau bertemu seorang renta yang kumuh lalu kau merasa iba kepadanya dan memberinya sejumlah uang. Ternyata orang tersebut tiada seucap katapun untuk berterima kasih… -Apakah kau masih betul-betul merasakan ketulusan hatimu ?   Atau kau bersungut merasa tidak suka   ?? Atau kemudian orang tersebut ingin bersalaman untuk mengucapkan terima kasihnya… -Apakah kau menyambut uluran tangannya dengan tulus sepenuh sukamu ?   Atau kau merasa geli sebab melihat tangan kumuhnya ? *Masihkah ketulusanmu kau ukur hanya dengan melihat perbedaan kaya vs miskin ? Tengoklah kedalam dirimu sendiri karena hanya kau dan Allah Sang Maha Tahu yang mengetahui hatimu !!

Akal+Nurani = AKAL SEHAT

Setiap manusia diberi Pikiran dan Nurani oleh Sang Pencipta. Dari pikiran bisa muncul respek dan penghormatan tetapi dari pikiran pula awal munculnya ego dan hawa nafsu. Dari pikiranlah penilaian berasal, sebab panca indera selalu terhubung dengan pikiran. Seseorang dengan hawa nafsu dan ego yang kuat tak akan mampu menghargai orang lain apalagi harus mengasihi, rasa hatinya pasti beku sebab dia selalu bertumpu pada penilaian hanya sebatas dari panca inderanya saja.

Melebur

Ibadah tertinggi seorang manusia adalah mampu meleburkan dirinya pada rasa pengasih dan penyayang-Nya hingga rasa-KU juga menjadi rasa-ku. Rasa Pengasih-Penyayang-Nya tentu tak berjeda dan tak berjarak. Tidak bersyarat ataupun berbatas. Meliputi segalanya. Manusia-manusia yang sudah tercerahkan akan mampu memahami dan menghayati tanpa mencela atau mengeluhkannya bahwa semua makluk-Nya adalah sama-setara.

Mabuk

Seseorang yang mabuk sudah pasti tak mampu berpikir jernih apalagi bertindak untuk kebaikan. Langkahnya tak mungkin bisa lurus, selalu grusa-grusu menabrak kesana-kemari. Tak mampu mengendalikan dirinya sendiri apalagi harus mengendalikan orang lain. Mabuk minuman, mabuk asmara, mabuk jabatan, mabuk kekayaan, mabuk ketenaran, mabuk agama….judulnya tetaplah mabuk.

Sejangkauan

"Pemahaman manusia itu hanya sejangkauan wawasannya saja". Begitu wawasannya bertambah maka berubah juga cara memaknai suatu peristiwa. Sudut pandangnya pasti akan ikut berubah. Dirinya mampu memaknai peristiwa yang sama menjadi punya arti yang sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Bahkan melihat peristiwa yang dulu dianggap suatu kepedihan ternyata juga bagian dari rangkaian keindahan. Mampu mentertawakan kekonyolan, kebodohan dan kelemahannya sendiri. Mampu memaknai peristiwa yang sulit/pedih menjadi punya arti membaikkan dirinya. Itulah kenapa didalam kitab-kitab agama, para manusia diharuskan belajar dan selalu belajar berbagai ilmu disepanjang hayatnya. Iqra' akan Ilmu-Nya yang tak terbatas. 

Rasa Diri

Ego selalu memunculkan keterpisahan dari Sang Maha Kuasa. Ke-aku-an yang menyebabkan "rasa-ku tetapi bukan rasa-KU" maka kemudian dirinya tega melakukan hal-hal yang memburukkannya bahkan keburukan kepada orang lain.  Tak peduli melakukan hal-hal licik/jahat yang merugikan dan merusak orang maupun makluk lain dan lingkungannya. Yang diutamakannya hanyalah memenuhi hasratnya yang menggebu, memuaskan kepentingannya. Merusak fisik dan pemikiran orang lain melalui penanaman dogma dan ideologinya.

Karma

Hukum karma berlaku mutlak dan tidak ada seorangpun yang dapat menghindarinya, bersama waktu maka semua akan terbuktikan. “Ahh itu kan keyakinan agama anu”, ada yang berkomentar begitu. Ya karna dirinya belum mempelajari maksud kitab agamanya sendiri dengan cermat sehingga tidak memahaminya. Atau memang egonya yang masih kuat sehingga tidak mampu melihat kekurangan dirinya. Karma selalu disebutkan didalam setiap kitab agama   (Please baca juga kitab agama yang lain agar tahu). Perbedaannya hanya pada bahasa, pada gaya kalimat penjelasannya. Tentu masing-masing karena disesuaikan menurut budaya dan era zamannya saja. Ada yang menjelaskannya dengan sebutan hukum sebab-akibat, hukum tabur-tuai, siapa yang berbuat baik maka akan mendapatkan kebaikan dan sebaliknya. Dan masih banyak kalimat lainnya tetapi essensinya sama.

Beda Atribut

Kepada sobat-sobatku, Walau aku menyusuri jalur yang berbeda denganmu tetapi aku yakin jalananmu juga seindah jalanan yang aku susuri. Kita hanya berbeda pemandangan sepanjang perjalanan, Kita hanya berbeda cara menyusun bekal diawal, Kita hanya berbeda jenis kendaraan, Tetapi rambu-rambu-Nya pastilah sama. Tak hendak melanggar ketentuan-Nya. Tidak meng-amini untuk menyakiti sesama makluk-Nya, apalagi keinginan membunuhnya. Diujung sana kita sama-sama menemukan sumbernya Rasa, Rasa Cinta-Nya, Hanya beda dikalimat penyampaiannya saja. hingga mampu mengasihi sesama tanpa sara, ku bisa merasakan keindahan yang sama, Getar keindahan cinta-kasih Illahi, Allah Sang Maha Pengasih. Sang Maha Penguasa Jagad Raya hanyalah Satu, Punyaku – Punyamu - Punya kita semua. Satu sama. SELAMAT MERAYAKAN NATAL buat sobat-sobatku yang merayakannya. Indonesia, 24des2018