Postingan

Berdoa

Pada zaman sekarang ini hampir setiap manusia disibukkan oleh berbagai kegiatannya, ada yang dimulai dari sebelum matahari terbit dan baru selesai menjelang jam tidurnya. Karena padatnya jadwal kegiatan maka seseorang berdoa seringkali dilakukan sambil terburu-buru, sambil lalu dan dianggap cukup jika telah   diucapkan dari lisannya. Kadangkala baru dipanjatkan secara intens jikalau sudah kadung kepepet suatu masalah.

Pemaaf

Banyaknya urusan sehari-hari dan   interaksi dengan berbagai orang bisa menimbulkan suatu perbedaan pendapat bahkan konflik, tentu rawan menimbulkan amarah jika tak pandai dalam mengolah diri. Harus melatih diri agar selalu tersedia kamus memaafkan didalam hati. Orang mampu memaafkan jika sudah punya hati yang tulus sebab tanpa ketulusan hanya berada disebatas lisan alias munafik (duuuh malunya jika masuk kedalam golongan ini). Mulutnya bilang memaafkan tetapi hatinya masih menyimpan dendam. Masih selalu  mengungkit-ungkit kejadian yang menyakitkannya. Panas hatinya masih belum padam.

Pembersihan

Salah satu PR manusia adalah mengentaskan jiwanya agar meluruh dari tebalnya balutan hawa nafsu sehingga jiwanya kembali melembut dan murni dalam memahami tuntunan-Nya. Tentu tuntunan dari Sang Maha Pencipta bukanlah tuntunan yang merugikan manusia lain dan makluk lain dan bukan juga tuntunan yang merusak alam semesta. Bahkan sekedar mencederainya. Tuntunan dari Sang Maha Pengasih pastilah jauh dari sikap keserakahan, ketamakan, kejahatan, keculasan, kedengkian, kemunafikan, kelicikan karena semua itu berseberangan dengan sifat-sifat-Nya.

Mengenal Diri

Mengenal diri dimaksud bukanlah diri jasmani yang berupa daging, air, darah, otot ini. Bukan diri yang jika telah ditinggalkan oleh sang nyawa kemudian membusuk menjadi bangkai tetapi   diri yang mengenal sifat ketuhanan, Tuhan yang pengasih dan penyayang, bukan Tuhan yang pembenci dan tukang murka. Yaa…diri adalah sang jiwa yang bernaung didalam raga. Untuk mengenal Tuhan tentu tak lepas dari mengenal sifat-sifat-Nya yang digambarkan dengan asma-asma-Nya. Dan semuanya Maha…sesuatu yang tak terhingga, tiada yang tak mungkin bagi-Nya. Perlu perenungan yang dalam untuk mampu memahami sifat Maha-Nya. Maha-Nya yang kadang masih diragukan oleh banyak orang.

Penderitaan

Penderitaan atau istilah populernya “ujian” (padahal berasal dari akibat perbuatannya sendiri) tak perlu ditakuti, sebab hal tersebut justru sarana belajar menjadi lebih cerdas, lebih kreatif, lebih baik, lebih kuat, lebih mampu evaluasi diri, lebih kuat iman dan yang sangat penting lebih paham betapa Kuasa-Nya Sang Pencipta. Contoh penderitaan akibat penyakit, pasti ada yang salah dalam menjaga tubuhnya, bisa karena terforsir, bisa salah pola makan, bisa juga salah kebiasaan mengkonsumsi sesuatu yang justru meracuni tubuhnya.

Cengeng

Jika kita lembek kepada diri sendiri   maka kehidupan yang akan keras kepada diri kita, sebab kehidupan itu sangatlah keras…begitu nasehat yang sering kita dengar. Keras dalam hal ini bukan harus bersikap beringasan ataupun kasar tetapi arti mendidik diri sendiri menjadi kuat adalah kuat jasmani/jaga kesehatan, kuat mental, kuat ruhani/spiritual. Sebab tanpa ketiganya tersebut akan cenderung menjadi cengeng dan mudah menyerah. Setiap menghadapi sedikit masalah langsung kecewa, mengeluh, sedih lalu menyerah ….ya bisa-bisa menyerah sebelum berperang. Padahal dari setiap permasalahan justru bisa belajar banyak hal. Tidak perlu takut menghadapinya sebab pasti akan berakhir juga.   Ketakutan justru akan menjauhkan dari Allah Sang Kuasa, takut itu karena tidak yakin akan Kuasa-Nya. Orang yang gigih adalah orang yang telah pernah bergulat dengan berbagai permasalahan.

Mencari Kesalahan Diri Sendiri

Hal yang paling sulit bagi setiap manusia adalah kemampuan mencari kesalahan pada dirinya sendiri. Ibarat gajah berada dipelupuk matanya tak terlihat. Kenapa bisa ? Karena ego-nya yang menutupinya. Egonya selalu mengatakan bahwa dirinya tak pernah salah dan yang bersalah adalah orang lain. Celakanya dirinya tidak merasa telah dipermainkan oleh egonya sendiri.

Dogma

“Ngeriii…di zaman sekarang ini orang merasa ringan saja melakukan kejahatan ya ? bahkan membunuh ibarat seperti hanya sekedar bertepuk tangan”, komentar seorang teman. “Kebanyakan orang sudah lupa menggunakan hatinya, selalu hanya berdasar logika saja. Padahal logika jika tak dilandasi dengan hati yang pengasih akan lebih dekat dengan nafsu angkara”, aku ikut berkomentar. “Iya ya, hanya demi kepuasan sesaat, yang penting rasa amarah dan kebenciannya terlampiaskan”, kata yang lain.

Maha Mendengar

“Vonis dokter menjadikanku down, entahlah aku bisa hidup berapa lama lagi”, keluh seorang teman. “Kenapa mesti down ? Apa yang kau takutkan ?”, jawabku. “Entahlah, aku nggak tahu mesti ngomong apa…campur aduk”, katanya sedih. “Oke sekarang cobalah tenang dan renungkan ya !! Semua peristiwa posisinya selalu sama yaitu akan mengaduk-aduk pikiran manusia menyebabkan sedih, senang, pahit, getir, bahagia, puas, menderita, dll. Nah jika tertimpa peristiwa sakit maka yang muncul resah gelisah kawatir takut, begitu kan ? itu semua karena pikiranmu terkalahkan oleh rasa sakitmu. Maka lawanlah rasa sakitmu, rasa takutmu ! jangan sampai dirimu yang kalah. Buang jauh-jauh pikiran diriku sakit ganti dengan ‘aku sehat’…ulangi dan ulangi setiap muncul kembali”, saranku. “Tapiii…”, jawabnya masih ragu.

Mihiill Bingiiittt

“Duuhh aku masih saja kesulitan mengenyahkan rasa dongkol dan kesal menghadapi suatu kejadian, padahal aku tahu jika membiarkan rasa dongkolku lama kelamaan bisa berdampak buruk   pada kesehatanku”, keluh seorang teman. “Itu wajar. Sudah bagus kau mulai paham bahwa pembiaran tsb bisa mengganggu kesehatanmu”, jawabku. “Dulu seringkali aku terserang   maag, sekarang setelah mulai mampu mengikis rasa dongkolku maagku   sudah jarang kambuh…inginku sama sekali tak terganggu, bisakah ?”, tanya dia lagi. “Bisa banget. Jika kita mengerti bahwa setiap pribadi pasti berproses sama saja sebenarnya kita ini selalu melihat orang lain berproses, lalu kenapa kita harus ikut dongkol atas proses orang lain ?”, tanyaku.

Pencitraan

Mengikuti berita akhir-akhir ini sepertinya banyak yang merasa terkecoh oleh pencitraan seseorang yang menjadi tokoh idolanya. Banyak yang tidak menyangka bahwa orang/sosok tersebut bisa melakukan atau tertimpa suatu kejadian yang tak mengenakkan, semua itu dikarenakan terlanjur termakan pencitraan hingga melupakan bahwa mereka juga manusia biasa yang selalu berproses. Terlanjur menganggap mereka adalah idola sehingga semua yang dilakukannya dianggap selalu benar dan ideal. Lupa bahwa mereka manusia biasa yang tak luput dari suatu kesalahan.

Keberagaman

Puluhan tahun bekerja dibidang fashion membuat jiwaku selalu menyukai keberagaman. Fashion selalu menampilkan aneka rupa mode dan gaya yang indah dipandang mata, mode yang selalu berganti, dunia terasa sangat dinamis. Seperti juga dalam melihat budaya diseluruh dunia dengan aneka bentuk, adat istiadat dan ragamnya yang elok dipandang mata.  Seandainya semua mampu mempertahankan ke aneka rupaan semua ragam budaya   itu pastilah setiap manusia akan semakin kaya wawasan dan ilmu pengetahuan, bisa saling belajar, bertukar ide maupun karya. Terbiasa bergaul dengan semua suku, ras, agama, etnis menambahku kaya khasanah dan hidupku menjadi tak menjemukan.

Waspada

Selalu ada hikmah jika mampu melihat ke-kedalaman suatu peristiwa. Pada babak penyisihan 10 besar di kompetisi Indonesian Idol peserta yang bersuara merdu justru tak terpilih oleh voting sms   pemirsa dan lalu tersingkir, kelima juri sampai menitikkan air mata menyesalkan hasil tersebut. Kenapa peserta dengan kualitas suara yang bagus justru tak terpilih oleh masyarakat Indonesia …itulah keluhan para juri.  Sayapun sebagai pemirsa kaget sebab justru penyanyi dengan kemampuan pas-pasan masuk kedalam babak selanjutnya.  Bahkan salah satu juri berkomentar : “Ternyata di Indonesia ini popularitas bisa mengalahkan kualitas”.

Persatuan

Melihat kompetisi di Indonesian Idol yang semakin seru, menampilkan bibit-bibit putra Indonesia yang bersuara merdu, sangat membanggakan. Pada satu sesi para peserta harus berduet, juri memberi pujian kepada sepasang peserta :  “Ini yang disebut duet yang sukses, masing-masing mampu menurunkan egonya sehingga bisa muncul penyatuan chemistry,   suaranya menjadi paket harmony yang bagus sekali, kalian hebat !!”. Hhmm…dalam kehidupan sehari-hari nasehat itupun semestinya berlaku.  

Kehendak

Manusia dizaman sekarang ini dipenuhi dengan kehendak, apalagi iming-iming gemebyarnya dunia yang selalu tersaji bersliweran. Semua berebut ingin menikmatinya. Segala bentuk media menyediakan sarana untuk mempertunjukkan kehidupan bak surga.  Gaya hidup hedonis, bergaya sosialita, yang seolah itulah kehidupan nyata yang harus ditiru semua orang. Dianggapnya itulah hidup bahagia yang senyatanya. Para penikmatnya tak pahami apa dibalik layar sesungguhnya.